Ahmadiyah Bukan Muslim, Ajarannya Menodai Islam

Posted on 3 views
ahmadiyah bukan muslim

Ahmadiyah bukan Muslim. Kelompok Ahmadiyah memiliki “agama” sendiri yang sebagian besar diambil dari ajaran Islam.

Karena cara ibadahnya mirip umat Islam, maka Ahmadiyah kerap disebut Muslim juga, padahal Ahmadiyah adalah kaum tersendiri, sebagaimana halnya Syi’ah juga bukan Muslim karena memiliki ajaran tersendiri, hanya sebagian besar mengambil dari ajaran Islam.

Paham, aliran, atau kelompok Ahmadiyah didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad di India saat negara ini masih dijajah Inggris tahun1889. Inggris mendukung Ahmadiyah karena kelompok ini bisa melemahkan Islam dan kaum Muslim di India.

Ma’ruf Amin saat menjabat Ketua Umum MUI memaparkan, ajaran Ahmadiyah sudah menyimpang dari ajaran Islam yang sebenarnya.

Hal prinsip yang membedakan antara Islam arus utama dan Ahmadiyah adalah masalah kenabian.

”Karena Ahmadiyah menganggap ada nabi setelah Nabi Muhammad. Itu suatu pendapat yang tidak boleh dipersoalkan lagi,” tegas Ma’ruf Amin dalam wawancara khusus dengan BBC Indonesia.

Sosok yang diyakini Ahmadiyah sebagai nabi penerus setelah Nabi Muhammad SAW adalah Mirza Ghulam Ahmad, pendiri Ahmadiyah.

Pengikut Ahmadiyah meyakini Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi sekaligus sebagai “al Masih yang dijanjikan”.

Diimbuhkan oleh Ma’ruf Amin bahwa perbedaan prinsip ini tidak lagi dalam wilayah yang dapat ditoleransi.

Peneliti Ahmadiyah dari FISIP Universitas Merdeka Malang, Catur Wahyudi, mencatat ada tiga aspek yang menjadikan Ahmadiyah kontroversial dan dinilai menyimpang dari Islam arus utama:

“Ahmadiyah dinilai tidak memiliki konsistensi dalam syahadat Islam, akibat keyakinannya terhadap sosok Mirza Ghulam Ahmad yang diposisikannya sebagai nabi, padahal Islam mainstream memandang Muhammad SAW adalah khatamul nabiiyin (nabi mutakhir),” jelas Catur.

Untuk mendalami keyakinan mereka, Catur masuk ke komunitas-komunitas Ahmadiyah.

Kendati demikian, tambahnya, Ahmadiyah memposisikan pendirinya, Mirza Ghulam Ahmad, sebagai nabi penerus yang tidak membawa risalah, dan wahyu yang diterimanya dimaknai sebagai penjelasan dari risalah Nabi Muhammad.

Dalam penelitiannya, Catur mencatat dalam bersyahadat, “pernyataan yang dikumandangkan sama dengan golongan Islam mainstream pada umumnya, demikian pula kumandang saat Adzan dan termasuk pula dalam bacaan sholat menyangkut kesaksian/syahadah.”

Alasan kedua mengapa Ahmadiyah dianggap kontroversial, menurut Catur Wahyudi, “Fakta dimana Mirza Ghulam Ahmad mendakwahkan diri sebagai Imam Mahdi dan al Masih al Mau’ud (Imam Mahdi yang dijanjikan) juga menjadi bagian perdebatan dan menjadi perbedaan yang mendasar dengan Islam mainstream yang pada umumnya masih menunggu kehadiran Imam Mahdi dan al Masih al Mau’ud, yang dipahaminya sebagai sosok dari Isa a.s.”

Hal senada diakui Sekjen Nasional Hubungan Masyarakat Jemaah Muslim Ahmadiyah Inggris yang merupakan organisasi induk Ahmadiyah internasional, Fareed Ahmad. Menurutnya, Mirza Ghulam Ahmad merupakan nabi penerus dan Imam Mahdi.

Faktor ketiga mungkin timbul akibat pemahaman yang keliru. Kumpulan wahyu yang disebutkan diterima oleh Mirza Ghulam Ahmad oleh penganutnya dibukukan setelah beliau wafat ke dalam Tadhkirah atau kadang ditulis Tazdkirah.

“Sebagian umat Islam menganggap Tadzkirah sebagai kitab suci Ahmadiyah,” jelas Catur.

Juru bicara JAI, Yendra Budiandra, menepis pandangan bahwa Tazdkirah adalah kitab suci bagi Ahmadi.

“Alquran adalah kitab suci komunitas Muslim Ahmadiyah yang wajib dibaca dan menjadi pegangan hidup, sementara Tazdkirah sifatnya seperti buku-buku Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as lainnya yang dianjurkan dibaca, tetapi bukan kitab suci seperti dalam konteks kitab suci agama-agama,” tegasnya.

Dalam penelitiannya, Catur Wahyudi meletakkan Tadhkirah atau Tazdkirah di bawah bantal untuk menguji ‘kesucian’ buku itu dan menurutnya, Ahmadi tidak marah atas tindakannya.

Oleh karenanya, menurut Yendra Budiandra, Muslim Ahmadi tidak diwajibkan memiliki atau membacanya setiap hari, berbeda dengan Alquran.

Di sejumlah negara muncul tuntutan agar penganut Ahmadiyah tidak mendefinisikan diri mereka sebagai Muslim. Di Pakistan bahkan tidak hanya sebatas tuntutan, tetapi sudah dalam bentuk larangan dengan ancaman pidana.

Tapi apakah Ahmadiyah non-Muslim?

“Tidak mungkin mereka disebut dengan agama yang bukan Islam, misalnya mereka disuruh mengambil nama lain. Karena praktik agama mereka adalah Islam,” kata dosen teologi di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Profesor DR. Qasim Mathar.

“Masjid dan cara sembahyang mereka itu Islam. Mereka puasa bulan Ramadan, mereka pergi haji juga, dan seterusnya,” jelasnya.

Rabithah Alam al Islami, Liga Muslim Dunia yang berpengaruh, pada tahun 1974 menyatakan Ahmadiyah bukan Muslim.

Langkah serupa ditempuh oleh Akademi Fiqh Islam di Organisasi Konferensi Islam (OKI) -yang kini dikenal dengan Organisasi Kerja Sama Islam- ketika tahun 1985 menyatakan bahwa aliran Ahmadiyah yang mempercayai Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi sesudah Nabi Muhammad dan menerima wahyu adalah murtad dan keluar dari Islam.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa sesat terhadap Ahmadiyah tahun 1980 yang kemudian diperkuat dengan fatwa lagi pada tahun 2005. MUI menegaskan, Ahmadiyah merupakan aliran sesat, menyesatkan, dan sudah keluar dari Islam.

Sumber: BBC

Membajak Al-Quran

Mirza Ghulam Ahmad banyak membajak ayat-ayat Al-Qur’an dalam buku Tadzkirah. Ayat-ayat Quran diklaim sebagai “wahyu” untuk dirinya.
Contohnya, Mirza Ghulam Ahmad mengaku diutus Allah untuk seluruh manusia (sesudah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam) di dalam Kitab Tadzkirahnya:
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ الله فَاتَّبِعُوْ نِىْ يُحْبِبْكُمُ الله – وَقُلْ يَآاَيُّهَا النَّاسُ اِنِّى رَسُوْلُ الله اِلَيْكُمْ جَمِيْعًا
Artinya: “Katakanlah (wahai Ahmad): Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihimu – dan katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua”. (Tadzkirah hal: 352)
Perlu diketahui, Ayat-ayat itu adalah rangkaian dari potongan-potongan ayat suci Al-Qur’an, yaitu surat Ali Imran 31 dan surat Al-A’raf 158.
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ الله فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ الله وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَالله غَفُورٌ رَحِيمٌ (٣١)
“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ali ‘Imran: 31)
 
قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ الله إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ لا إِلَهَ إِلا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ فَآمِنُوا بِالله وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الأمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِالله وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (١٥٨)
“Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, Yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang Ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.” (QS Al-A’raf: 158)
Ayat itu sengaja dipotong oleh Mirza Ghulam Ahmad di antaranya karena ada lafal النَّبِيِّ الأمِّيِّ Nabi yang Ummi yaitu sifat dari Nabi Muhammad Saw.

Butir-Butir Kesesatan dan Penyimpangan Ahmadiyah

Dari hasil penelitian LPPI (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam) ditemukan butir-butir kesesatan dan penyimpangan Ahmadiyah ditinjau dari ajaran Islam yang sebenarnya. Butir-butir kesesatan dan penyimpangan itu bisa diringkas sebagai berikut:

1. Ahmadiyah Qadyan berkeyakinan bahwa Mirza Ghulam Ahmad dari India itu adalah nabi dan rasul. Siapa saja yang tidak mempercayainya adalah kafir dan murtad.

2. Ahmadiyah Qadyan mempunyai kitab suci sendiri yaitu kitab suci “Tadzkirah”.

3. Kitab suci “Tadzkirah”adalah kumpulan “wahyu” yang diturunkan “Tuhan” kepada “Nabi Mirza Ghulam Ahmad” yang kesuciannya sama dengan Kitab Suci Al-Qur’an dan kitab-kitab suci yang lain seperti; Taurat, Zabur dan Injil, karena sama-sama wahyu dari Tuhan.

4. Orang Ahmadiyah mempunyai tempat suci sendiri untuk melakukan ibadah haji yaitu Rabwah dan Qadyan di India. Mereka mengatakan: “Alangkah celakanya orang yang telah melarang dirinya bersenang-senang dalam Haji Akbar ke Qadyan. Haji ke Makkah tanpa haji ke Qadyan adalah haji yang kering lagi kasar”. Dan selama hidupnya “Nabi” Mirza Ghulam Ahmad tidak pernah pergi haji ke Makkah.

5. Orang Ahmadiyah mempunyai perhitungan tanggal, bulan dan tahun sendiri. Nama-nama bulan Ahmadiyah adalah: 1. Suluh 2. Tabligh 3. Aman 4. Syahadah 5. Hijrah 6. Ihsan 7. Wafa 8. Zuhur 9. Tabuk 10. Ikha’ 11. Nubuwah 12. Fatah. Sedang tahunnya adalah Hijri Syamsi yang biasa mereka singkat dengan HS. Dan tahun Ahmadiyah saat penelitian ini dibuat 1994M/ 1414H adalah tahun 1373 HS. Kewajiban menggunakan tanggal, bulan, dan tahun Ahmadiyah tersendiri tersebut di atas adalah perintah khalifah Ahmadiyah yang kedua yaitu: Basyiruddin Mahmud Ahmad.

6. Berdasarkan firman “Tuhan” yang diterima oleh “Nabi” dan “Rasul” Ahmadiyah yang terdapat dalam kitab suci “Tadzkirah” yang berbunyi:

Artinya: “Dialah Tuhan yang mengutus Rasulnya “Mirza Ghulam Ahmad” dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya atas segala agama-agama semuanya. (kitab suci Tadzkirah hal. 621).

Menunjukkan bahwa Ahmadiyah bukan suatu aliran dalam Islam, tetapi merupakan suatu agama yang harus dimenangkan terhadap semua agama lain termasuk Islam.

7. Secara ringkas, Ahmadiyah mempunyai Nabi dan Rasul sendiri, kitab suci sendiri, tanggal, bulan dan tahun sendiri, tempat untuk haji sendiri serta khalifah sendiri yang sekarang khalifah yang ke 4 yang bermarkas di London Inggris bernama: Thahir Ahmad. Semua anggota Ahmadiyah di seluruh dunia wajib tunduk dan taat tanpa reserve kepada perintah dia. Orang di luar Ahmadiyah adalah kafir, sedang wanita Ahmadiyah haram dikawini laki-laki di luar Ahmadiyah. Orang yang tidak mau menerima Ahmadiyah tentu mengalami kehancuran.

8. Berdasarkan “ayat-ayat” kitab suci Ahmadiyah “Tadzkirah”. Bahwa tugas dan fungsi Nabi Muhammad saw sebagai Nabi dan Rasul yang dijelaskan oleh kitab suci umat Islam Al Qur’an, dibatalkan dan diganti oleh “nabi” orang Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad.

Untuk lebih jelasnya, mari kita perhatikan bunyi kitab suci Ahmadiyah “Tadzkirah” yang dikutip di bawah ini:

a. Firman “Tuhan’ dalam Kitab Suci Tadzkirah”

Artinya: “Sesungguhnya kami telah menurunkan kitab suci “Tadzkirah” ini dekat dengan Qadian-India. Dan dengan kebenaran kami menurunkannya dan dengan kebenaran dia turun”. (Kitab Suci Tadzkirah hal.637).

b. Firman “Tuhan’ dalam Kitab Suci Tadzkirah”

Artinya: ”Katakanlah –wahai Mirza Ghulan Ahmad- “Jika kamu benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku”. (Kitab Suci Tadzkirah hal.630)

c. Firman “Tuhan” dalam Kitab Suci “Tadzkirah”:

Artinya: “Dan kami tidak mengutus engkau –wahai Mirza Ghulam Ahmad- kecuali untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam”. (Kitab Suci Tadzkirah hal.634)

d. Firman “Tuhan” dalam Kitab Suci “Tadzkirah”:

Artinya: “Katakan wahai Mirza Ghulam Ahmad” – Se sungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, hanya diberi wahyu kepadaKu”. (Kitab Suci Tadzkirah hal.633).

e. Firman “Tuhan” dalam Kitab Suci “Tadzkirah”:

Artinya: “Sesungghnya kami telah memberikan kepadamu “wahai Mirza Ghulam Ahmad” kebaikan yang banyak.” (Kitab Suci Tadzkirah hal.652)

f. Firman “Tuhan” dalam Kitab Suci “Tadzkirah”:

Artinya: “Sesungguhnya kami telah menjadikan engkau -wahai Mirza Ghulam ahmad– imam bagi seluruh manusia”. (Kitab Suci Tadzkirah hal.630 )

g. Firman “Tuhan” dalam Kitab Suci “Tadzkirah” :

Artinya: Oh, Pemimpin sempurna, engkau –wahai Mirza Ghulam Ahmad– seorang dari rasul–rasul, yang menempuh jalan betul, diutus oleh Yang Maha Kuasa, Yang Rahim”.

h. Dan masih banyak lagi ayat–ayat kitab suci Al-Qur’an yang dibajaknya. Ayat–ayat kitab suci Ahmadiyah “Tadzkirah” yang dikutip di atas, adalah penodaan dan bajakan–bajakan dari kitab suci Ummat Islam, Al-Qur’an. Sedang Mirza Ghulam Ahmad mengaku pada ummatnya (orang Ahmadiyah), bahwa ayat–ayat tersebut adalah wahyu yang dia terima dari “Tuhannya” di India. *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *