Hukum Merayakan Tahun Baru Islam 1 Muharam Hijriyah

Posted on 4 views

Merayakan Tahun Baru Islam 1 Muharam

Tahun Baru Islam 1 Muharam Hijriyah biasanya diperingati dan dirayakan sebagian kaum muslim. Berikut ini Hukum Merayakan Tahun Baru Islam 1 Muharram Hijriyah.

Tahun baru Islam 1 Muharram 1442 Hijriah bertepatan dengan Kamis, 20 Agustus 2020. Kalender Hijriyah diberlakukan mulai zaman Khalifah Umar bin Khattab.

Dengan demikian, zaman Nabi Muhammad Saw dan Khalifah Abu Bakar belum ada kalender hijriyah. Dari fakta sejarah ini saja bisa dipahami, Rasulullah Saw tidak pernah memperingati/merayakan malam pergantian tahun hijriah.

Merayakan tahun baru Islam 1 Muharram tidak ada dalil ataupun contohnya dari Rasulullah Saw, sehingga perayaan atau peringatan tahun baru Islam merupakan hal baru.

Juga tidak ada juga doa awal dan akhir tahun sebagaimana banyak beredar di kalangan masyarakat Muslim.

Hijrah Bukan Bulan Muharram

Ilustrasi Hijrah
Ilustrasi Hijrah

Perayaan tahun baru Islam diyakini sebagian umat Islam sebagai peringatan hijrah, yakni pindahnya Nabi Muhammad Saw dan para sahabat dari Makkah ke Madinah (Yatsrib).

Hal itu mengacu pada catatan sejarah, bahwa saat kalender Hijriyah akan ditetapkan Khalifah Umar bin Khattab, forum musyawarah saat itu menyetujui usulan Ali bin Abi Thalib untuk menjadikan peristiwa Hijrah menjadi tahun pertama kalender Islam –karenanya dinamakan kalender Hijriyah.

Landasannya adalah firman Allah SWT.

“Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya” (QS. At-Taubah:108)

Para sahabat saat itu memahami, makna sejak hari pertama dalam ayat tersebut adalah hari pertama kedatangan Nabi Muhammad Saw di Yatsrib (Madinah). Oleh karena itu, moment tersebut pantas dijadikan acuan awal tahun kalender hijriyah.

Untuk nama bulan pertama kalender Hijriyah, yakni Muharam, ditetapkan atas usul Utsman bin Affan. Alasannya, sejak dulu orang Arab menganggap Muharam adalah bulan pertama. Umat Islam juga telah menyelesaikan ibadah haji pada bulan Dzulhijjah.

Hijrah Rasulullah Saw dari Mekkah ke Madinah tak terjadi pada tanggal 1 Muharram. Para ahli sejarah bersepakat, hijrah Nabi Saw terjadi pada bulan Rabi’ul Awwal, bukan bulan Muharram

Dalam kitab Ar-Rahiq Al-Makhtum, Syeikh Al-Mubarakfury mengatakan, Nabi Muhammad Saw meninggalkan kediamannya di Mekkah ke kediaman Abu Bakar saat hari gelap atau malam hari, yakni pada tanggal 27 Shafar.

Dari kediaman Abu Bakar, Rasulullah Saw bersama Abu Bakar meninggalkan Mekah ke tempat yang berlawanan dengan Madinah, menuju Gua Tsur, untuk bersembunyi dari kejaran kaum kafir Quraisy.

Nabi Muhammad Saw dan Abu Bakar menginap di dalam gua tersebut selama tiga malam, yakni malam Jumat, Sabtu, dan Ahad.

Bersama Abu Bakar dan Abdullah bin Uraiqith serta orang kafir penunjuk jalan, Rasulullah Saw memulai perjalanan ke Madinah lewat jalan yang tak lumrah.

Dalam Sirrah Nabawiyah disebutkan, Rasulullah Saw tiba di daerah Quba, sekian kilometer sebelum masuk Kota Madinah, pada Senin 8 Rabiul Awwal (23 Sept 622 M).

Di Quba ini Rasulullah Saw sempat menginap dari hari Senin, Selasa, Rabu, hingga Kamis. Rasulullah bergerak menuju Madinah hari Jumat, 11 Rabiul Awwal.

Dengan demikian, tidak tepat bila tanggal 1 Muharram diperingati peristiwa hijrahnya Rasulullah Saw dari Makkah ke Madinah, karena hijrah Rasulullah tak terjadi pada bulan Muharram.

Jika ingin memperingati hijrah nabi, waktunya seharusnya antara 27 Shafar hingga 11 Rabiul Awwal.

Memperingati 1 Muharam sebenarnya memperingati ulang tahun kelahiran Al-Madinah Al-Munawwarah. Sebab, pada dasarnya penetapan kalender hijriah itu dari kepentingan sistem adminstrasi negara.

Umar serta para shahabat ketika itu setuju untuk mulai hitungan tahun pertama adalah sejak berdirinya negara Madinah, yang secara politis dijatuhkan pada tahun saat Nabi Saw hijrah dan tiba di Madinah.

Hukum Merayakan Tahun Baru Islam

Bagaimana hukum memperingati Tahun Baru Islam?

Peringatan atau perayaan tahun baru Islam 1 Muharram tak ada dasarnya dalam Islam. Lagi pula, dalam Islam hari raya hanya ada dua, yaitu ‘Idul Adh-ha dan ‘Idul Fitri.

Peringatan atau peringatan tahun baru merupakan tradisi kaum nonmuslim yang biasa memperingati Tahun Baru Masehi, termasuk ucapan “Selamat Tahun Baru” (Happy New Year).

Bahkan, umat Kristen menyatukannya dengan perayaan Natal —Merry Christmas and Happy New Year.

Dalam Islam, bulan Muharram (dikenal oleh orang Jawa dengan bulan Suro) merupakan salah satu di antara empat bulan yang dinamakan bulan haram.

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At Taubah: 36)

Dari Abu Bakroh, Nabi Saw bersabda:

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.”

Ibnu ’Abbas mengatakan, “Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.”

Fatwa Ulama

Hukum Merayakan Tahun Baru Hijriyah 1 Muharram pernah ditanyakan kepada Syaikh Abu ‘Abdullah Muhammad bin Shalih alias Syaikh Utsaimin, seorang ulama ahli fiqih dari Arab Saudi.

تخصيص الأيام، أو الشهور، أو السنوات بعيد مرجعه إلى الشرع وليس إلى العادة، ولهذا لما قدم النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم المدينة ولهم يومان يلعبون فيهما فقال: «ما هذان اليومان»؟ قالوا: كنا نلعب فيهما في الجاهلية، فقال رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم: «إن الله قد أبدلكم بهما خيراً منهما: يوم الأضحى، ويوم الفطر». ولو أن الأعياد في الإسلام كانت تابعة للعادات لأحدث الناس لكل حدث عيداً ولم يكن للأعياد الشرعية كبير فائدة.

ثم إنه يخشى أن هؤلاء اتخذوا رأس السنة أو أولها عيداً متابعة للنصارى ومضاهاة لهم حيث يتخذون عيداً عند رأس السنة الميلادية فيكون في اتخاذ شهر المحرم عيداً محذور آخر.

كتبه محمد بن صالح العثيمين

24/1/1418 هـ

Pengkhususan hari-hari tertentu, atau bulan-bulan tertentu, atau tahun-tahun tertentu sebagai hari besar/hari raya (‘Id) maka kembalinya adalah kepada ketentuan syari’at, bukan kepada adat.

Oleh karena itu, ketika Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam datang datang ke Madinah, dalam keadaan penduduk Madinah memiliki dua hari besar yang mereka bergembira ria padanya, maka beliau bertanya :

“Apakah dua hari ini?” maka mereka menjawab : “(Hari besar) yang kami biasa bergembira padanya pada masa jahiliyyah. Maka Rasulullâh shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya Allah telah menggantikan dua hari tersebut dengan hari raya yang lebih baik, yaitu ‘Idul Adh-ha dan ‘Idul Fitri.“

Kalau seandainya hari-hari besar dalam Islam itu mengikuti adat kebiasaan, maka manusia akan seenaknya menjadikan setiap kejadian penting sebagai hari raya/hari besar, dan hari raya syar’i tidak akan ada gunanya.

Kemudian apabila mereka menjadikan penghujung tahun atau awal tahun (hijriyyah) sebagai hari raya maka dikhawatirkan mereka mengikuti kebiasaan Nashara dan menyerupai mereka. Karena mereka menjadikan penghujung tahun miladi/masehi sebagai hari raya. Maka menjadikan bulan Muharram sebagai hari besar/hari raya terdapat bahaya lain.

Ditulis oleh Muhammad bin Shâlih Al-’Utsaimîn
24 – 1 – 1418 H

Sumber: Majmû Fatâwâ wa Rasâ`il Ibni ‘Utsaimîn.

Demikian ulasan tentang Hukum Merayakan Tahun Baru Islam 1 Muharam Hijriyah. Karena tidak ada landasan atau dalilnya, maka kaum muslim tidak perlu merayakan malam tahun baru Islam. Wallahu a’lam bish-shawab.*

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *