Warna Islam Dalam Sejarah Jakarta

Posted on 17 views
Sejarah Islam Jakarta
Pedagan Arab bagian Sejarah Islam Jakarta (@Wikimedia)

WILAYAH Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta bermula dari sebuah bandar kecil di muara Sungai Ciliwung, sebelum berkembang menjadi kota metropolitan. Berikut ini warna Islam dalam sejarah Jakarta.

Melansir dari Instagram Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta, selama perjalanannya, Jakarta sudah 13 kali berganti nama, mulai dari Sunda Kelapa, Jayakarta, Stad Batavia, Gemeente Batavia, Stad Gemente, Batavia, Betshu Shi, Pemerintah Nasional Kota Jakarta, Stad Gemeente Batavia, Kota Praja Jakarta, Kota Praja Jakarta Raya, Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya, Jakarta, hingga Pemerintah Provinsi DKI Jakarta saat ini.

Warna Islam di Jakarta

Sejarah perkembangan Islam di Jakarta mengemuka sejak pengusiran Portugis dari Bandar Sunda Kelapa, 493 tahun silam.

Sejarawan Ahmad Mansur Suryanegara dalam Api Sejarah (2009) menuturkan, Fatahillah lantas menamakan daerah ini Jayakarta yang artinya “kemenangan paripurna”. Agama Islam menanamkan semangat jihad bagi masyarakat Betawi dalam melawan penjajahan.

Para saudagar Arab memainkan peran dalam sejarah Jakarta. Mereka melanglangbuana di Samudra Hindia sejak lebih dari 2.000 tahun lalu. Mereka menjadi pedagang penghubung Eropa dengan negeri-negeri Afrika, India, Asia Tenggara, dan China.

Perniagaan dengan Sailan atau Sri Lanka sudah sepenuhnya di tangan orang-orang Arab pada abad kedelapan atau sekitar 200 tahun sesudah wafatnya Nabi Muhammad SAW.

Maka dari itu, dakwah Islam diyakini tiba di Nusantara ketika Rasulullah Saw masih hidup atau setidaknya sejak era Khulafaur Rasyidin.

Memasuki abad ke-13 M, kedaulatan Islam mulai terbentuk di Indonesia. Menurut Buya Hamka dalam Sejarah Umat Islam (2016), Samudra Pasai merupakan kerajaan Islam pertama di Nusantara.

Hal itu berdasarkan kajian atas makam raja-raja Samudra Pasai di Aceh. Di kompleks tersebut, kuburan tertua atas nama Meurah Silu.

Pada batu nisannya, tergurat kaligrafi Arab serta penanda tahun 692 H, bertepatan dengan 1297 M. Buya Hamka mengatakan, gelar raja tersebut, al-Malikush Shaleh, menyerupai julukan sang pendiri kerajaan mamalik pertama di Mesir, al-Malikus Shalih Ayub.

Di Jawa, Demak menjadi kerajaan Islam pertama. Menurut historiografi lokal, Kesultanan Demak muncul sebagai kekuatan baru yang mewarisi legitimasi dari kebesaran Majapahit.

Hamka meyakini, Pasai dan Demak menjalin hubungan diplomatik yang erat.

Sebagai contoh, pernikahan terjadi antarbangsawan dari kedua belah pihak. Seorang ulama muda kelahiran Pasai datang ke Demak untuk berkhidmat kepada Sultan Trenggono.

Maulana Nuruddin Ibrahim atau Syarif Hidayatullah, demikian namanya, lantas menjadi suami dari saudara perempuan raja Demak tersebut.

Kelak, sosok yang juga dikenal sebagai Sunan Gunung Jati itu memimpin konvoi pasukan ke pelabuhan di muara Sungai Ciliwung, Sunda Kelapa.

Di Semenanjung Malaya, Afonso de Albuquerque merebut Malaka dari kekuasaan Sultan Mahmud pada 1511.

Menurut Mansur Suryanegara, imperialis Katolik tersebut –demikian istilahnya– tak memiliki komoditas yang dapat dibarterkan di Malaka.

Alhasil, otoritas Portugis kerap memaksa kapal-kapal yang berlabuh di sana untuk menyerahkan barangnya, terutama rempah-rempah. Situasi yang dahulu damai berubah menjadi sarat pemaksaan.

Alhasil, para pedagang, utamanya Muslimin, enggan mengunjungi Malaka. Mereka lebih suka membuang sauh di Brunei atau Banten.

Dampak pencaplokan Malaka berimbas bagi Jawa. Selain Banten, Sunda Kelapa menjadi salah satu bandar favorit. Kala itu, bandar tersebut masuk wilayah kekuasaan Pajajaran. Kerajaan Hindu itu sesungguhnya berpusat di daerah pedalaman –Batutulis, Bogor.

Pertanian menjadi andalan dalam menggerakkan roda perekonomian karena kesuburan tanahnya. Bagaimanapun, negeri tersebut juga bercorak maritim. Banyak pelabuhan dikendalikannya, termasuk Cirebon, Indramayu, Karawang, Sunda Kelapa, Pontang (Serang), dan Tangerang. Tiap kapal yang berlabuh di bandar-bandar itu harus membayar pajak pungutan kepada Pajajaran.

Menyadari Malaka yang lebih sepi, Portugis pun melirik pesisir Jawa. Terlebih lagi, rivalnya, Spanyol, saat itu sudah menjejakkan kaki di Maluku.

Untuk memperluas pengaruh di Nusantara, Portugis merasa perlu untuk merebut salah satu bandar strategis di Jawa.

Imperialis asing ini lantas membangun komunikasi politik dengan penguasa Pajajaran sehingga diperbolehkan membangun benteng di Sunda Kelapa pada 1522.

M Dien Majid dalam artikelnya, “Awal Perkembangan Islam di Jakarta dan Pengaruhnya Hingga Abad XVII”, menjelaskan, di satu sisi raja Pajajaran mengadakan perjanjian dengan Portugis untuk mempertahankan Sunda Kelapa.

Pelabuhan itu dinilai sangat penting lantaran letaknya berdekatan dengan ibu kota kerajaan Hindu tersebut. Di sisi lain, Pajajaran juga khawatir terhadap sepak terjang pengaruh Islam dari arah timur–Demak. Menurut Majid, kekhawatiran itu mendorong Pajajaran untuk membina aliansi dengan Portugis.

Mengutip Babad Cirebon, syak wasangka Pajajaran terutama muncul setelah Cirebon jatuh dalam wilayah pengaruh Demak. Kaum Muslimin setempat menolak membayar pajak ke Pajajaran. Majid mengatakan, pemboikotan pajak dari Cirebon membawa pukulan hebat bagi ekonomi dan kestabilan politik kerajaan Hindu itu.

Kabar koalisi antara Pajajaran dan Portugis di Sunda Kelapa pun sampai ke Demak. Persekutuan keduanya membuat marah bukan saja pihak kesultanan, tetapi juga walisongo. Sebab, Portugis baru saja terlibat dalam Perang Salib sehingga dianggap tak hanya membahayakan persaingan dagang yang fair, tetapi juga kedaulatan Islam di Nusantara yang kala itu sedang berkembang pesat.

Sultan Trenggono ingin Demak bergerak lebih cepat dengan menduduki wilayah-wilayah strategis di Jawa bagian barat. Jangan sampai Portugis lebih dahulu mencaplok Sunda Kelapa, sebagaimana nasib yang dialami Malaka.

Pada 1512, Demak bersama dengan Kesultanan Aceh melancarkan misi untuk merebut kembali Malaka. Namun, upaya itu tidak berhasil. Menurut Suryanegara, kegagalan ini terjadi akibat ketidakseimbangan persenjataan. Kapal-kapal Portugis dilengkapi senjata mesiu, sedangkan koalisi Muslimin tak memilikinya.

Sunda Kelapa sudah di ambang kekuasaan Portugis. Bagaimanapun, sasaran awal Demak ialah menaklukkan Banten terlebih dahulu sebelum Sunda Kelapa. Alasannya, bandar yang terletak sekitar 10 km dari Kota Serang itu penting dikuasai untuk mengunci pengaruh Portugis-Pajajaran di pesisir utara Jawa barat.

Kekuatan gabungan Cirebon dan Demak terdiri atas sekitar 2.000 tentara. Pada 1526, Pelabuhan Banten akhirnya dapat dikuasai koalisi Islam. Dari Banten, pasukan Muslimin itu bergerak menuju Sunda Kelapa.

Jayakarta

Suryanegara menuturkan, pada 22 Juni 1527 atau 22 Ramadhan 933 H, Sunda Kelapa berhasil direbut oleh Syarif Hidayatullah bersama dengan menantunya, Fatahillah atau Falatehan.

Setelah itu, nama Sunda Kelapa diganti menjadi Fathan Mubina. Nama itu terinspirasi dari Alquran surah al-Fath ayat satu, Innaa fatahnaa laka fathan mubiinaa, ‘Sungguh, Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata’.

Atas dasar itu, Fathan Mubina juga disebut sebagai Jayakarta, yang kelak beratus-ratus tahun kemudian disingkat menjadi Jakarta sejak zaman pendudukan Jepang. Jayakarta berarti ‘kemenangan paripurna’.

Selanjutnya, Suryanegara mengatakan, kepemimpinan atas Jayakarta diserahkan kepada Falatehan. Syarif Hidayatullah digelari sebagai pandita ratu. Tugasnya sebagai wali dan pemegang kekuasaan eksekutif dan agama di Cirebon hingga wafatnya pada 1568 M. Jenazahnya dikebumikan di Astana Giri Noer Tjipta Rengga atau Astana Gunung Jati.

Falatehan mendirikan keraton di kawasan yang kini termasuk Kali Besar, tepatnya sekitar Jembatan Kota Intan, Jakarta.

Menurut Alwi Shahab dalam Waktu Belanda Mabuk, Lahirlah Batavia (2013), wilayah Jayakarta membentang dari utara ke selatan, yakni mengitari kedua anak Sungai Ciliwung, Jakarta.

Di sebelah selatan keraton Falatehan, lanjut dia, terdapat alun-alun. Adapun pada sebelah barat alun-alun itu penguasa Muslim mendirikan sebuah masjid. Tak jauh dari sana, pasar dibangun untuk masyarakat mencari nafkah.

Tata kota dengan penempatan bangunan-bangunan seperti Jayakarta pada dasarnya tak berbeda dengan kota-kota lainnya di pesisir utara Jawa pada masa pertumbuhan Islam.

Dalam hal ini, Falatehan mengikuti tradisi yang lebih dahulu berkembang di Demak. Shahab mengatakan, bangunan-bangunan keraton, masjid, pasar, dan alun-alun mencerminkan pusat kekuasaan politik antara masyarakat, birokrat, dan raja.

Tatanan sosial menjamin keamanan dan ketentraman kota berpenduduk sekitar 15 ribu jiwa tersebut. Ketika itu, Keraton Jayakarta dikelilingi pagar kota yang terbuat dari bambu, sebelum digantikan oleh pagar tembok.

Dari Jayakarta Menjadi Batavia

Setelah berhasil menghalau Portugis, terbukalah jalan yang lapang bagi kedaulatan Islam di Sunda Kelapa (Jayakarta).

Menurut M Dien Majid, Falatehan mengikutsertakan Pangeran Surasa dari Cirebon dan Ratu Zainab, yakni adiknya sendiri, untuk melakukan syiar agama tauhid.

Dalam periode awal, ia menjadi pangeran yang mewakili kekuasaan Cirebon di sana. Akan tetapi, sejak 1530 Falatehan meninggalkan Jayakarta.

Sesampainya di Cirebon, ia menggantikan kepemimpinan Pangeran Pasarean, termasuk dalam misi ekspansi Demak ke Pasuruan. Sebab, putra Sunan Gunung Jati itu mengikuti jejak ayahnya dalam menyebarkan Islam di wilayah Sunda, yang waktu itu mayoritas penduduknya masih menganut Hindu.

Kendali Jayakarta kini dipegang Ratu Bagus (Tubagus) Angke, panglima perang Kesultanan Banten. Pemimpin bergelar Pangeran Jayakarta II itu adalah putra Pangeran Panjunan, yakni anak Syekh Datuk Kahfi –seorang ulama besar di Cirebon. Demi mempererat hubungan antara Banten dan Jayakarta, Tubagus Angke menikah dengan Ratu Ayu Pembayun Fatimah, putri Falatehan.

Belanda Datang

Belanda datang pertama kali ke Nusantara pada 1596. Rombongan yang dipimpin Cornelis de Houtman itu berhasil mendarat di Pelabuhan Banten.

Namun, kedatangannya beberapa waku kemudian diusir penduduk setempat. Sebab, masyarakat merasa sangat terusik dengan sikap kasar dan sombong Belanda.

Para penjelajah dari Negeri Tanah Rendah datang lagi ke Nusantara pada 1598. Kali ini, pemimpinnya ialah Jacob van Heck.

Beberapa orang Belanda sempat mengunjungi Jayakarta. Hal itu diketahui dari catatan seorang Belanda bertanggal 16 November 1596.

Disebutkan di dalamnya, penguasa Jayakarta waktu itu sudah sangat tua. Sejarawan Uka Tjandrasasmita, kata Majid, berpendapat, yang dimaksud dalam laporan ini ialah Tubagus Angke.

Kurang begitu jelas kapan Tubagus Angke turun takhta. Yang pasti, penerusnya ialah Tubagus Sungerasa Jayawikarta.

Sosok bergelar Pangeran Wijayakrama itu memimpin Jayakarta dalam abad ke-17. Pada masa itu, kekuatan bangsa-bangsa Eropa mulai unjuk gigi di kota pelabuhan tersebut.

Kongsi dagang Belanda, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC/Kompeni), terbentuk pada 20 Maret 1602. Pieter Both selaku gubernur jenderal VOC yang pertama memilih Jayakarta, alih-alih Banten, sebagai pusat administrasi lembaganya. Sebab, waktu itu Jayakarta belum terlalu diramaikan kantor-kantor duta perdagangan asing, semisal dari Portugis, Inggris, atau Spanyol.

Pada 1611, VOC mendapatkan izin dari Banten untuk membangun kantor dagang. Kompeni menyewa lahan seluas kira-kira 1,5 hektare di dekat muara Sungai Ciliwung.

Di sana, dibangunlah kawasan perkantoran, gudang, dan tempat tinggal orang- orang Belanda. Bangunan utamanya bernama Nassau Huis.

Jan Pieterszoon Coen naik menggantikan Both. Berbeda dari pendahulunya, ia ingin VOC tak sekadar mendirikan basis perniagaan di Jayakarta, tetapi lebih lanjut menguasainya.

Maka, JP Coen membangun tembok-tembok lebih tinggi, dan bahkan dilengkapi beberapa meriam. Bangunan itu pun menjadi benteng militer yang kokoh.

Pada 30 Mei 1619, Kompeni menyerang Jayakarta. Tanpa ampun mereka membumihanguskan Keraton Jayakarta beserta masjid dan rumah-rumah penduduk.

Belasan ribu warga setempat –lelaki, perempuan, dan anak-anak– terusir dari tempat tinggalnya. Para pengungsi menyingkir hingga ke Jatinegara Kaum, yang jaraknya sekitar 20 kilometer dari Kota Intan.

Kelak, masyarakat muslimin itu mendirikan masjid di lokasi setempat. Namanya, Masjid Jami Assalafiyah –yang hingga kini masih berdiri tegak. Melalui masjid itulah Pangeran Jayakarta beserta para pengikutnya terus menggerakkan pasukan bergerilya dalam melawan Belanda.

Alwi Shahab menerangkan, sesudah tuntas operasi militer itu, JP Coen hendak mengubah nama Jayakarta menjadi De Hoorn –sesuai nama kota kelahirannya di Belanda Utara.

Belum sempat diumumkan, dalam sebuah pesta kemenangan ada seorang serdadu VOC yang sedang mabuk sembari berteriak, “Batavia… Batavia….”

Entah bagaimana prosesnya, lanjut Shahab, akhirnya Jayakarta diubah namanya menjadi Batavia. Coen berulang kali ingin mengubahnya, tetapi tak berhasil. Sebab, para pemegang saham Kompeni justru lebih suka sebutan Batavia. (ROL)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *